Friday, August 19, 2016

Benarkah Si Kecil Terkena Sawan?

10 comments
Si K tiba-tiba menolak untuk menyusu, padahal ekspresi wajahnya sangat kentara jika dia kelaparan. Tidak perlu menunggu lama, si K menangis histeris hingga tetangga datang dan bertanya, ada apa? Butuh waktu yang agak lama untuk mengalihkan perhatian si K dan membuatnya tenang.

Berbagai spekulasi berkelebat. Hari itu usia si K menginjak bulan keempat, jadwal si K imunisasi DPT dan BCG. Si K demam hingga 38 derajat celcius. Tetapi, kerewelan si K sangat lain dari biasanya. Bulan-bulan lalu selepas imunisasi, si K paling-paling minta digendong sembari menyusu terus-menerus. Ini kenapa tangisan si K histeris? Apakah imunisasi di bulan keempat sakitnya melebihi bulan-bulan sebelumnya?

Maghrib menjelang, tangis si K semakin histeris. Aku kewalahan untuk menenangkan. Ketika aku berniat memberi ASI, si K sontak menolak keras-keras. Memberontak disertai tangis yang lebih histeris. Aku pun menyusul Abah si K ke mushola, meminta beliau segera pulang.

Si K tenang saat bersama Abahnya. Kekhawatiranku semakin memuncak, jam 9 malam si K belum minum sama sekali. Aku pun berinisiatif untuk memerah ASI kemudian memberikan dengan pipet karena khawatir si K dehidrasi.

Dan, Gagal. 

Aku mulai panik. Mbah Buyut dan Bulik datang. Membantu menenangkan si K setelah Abah, Mamak-neneknya- dan Ibunya gagal menenangkan. Mamak pun mencari dino-bengle, umbi-umbian mirip jahe yang memiliki aroma khas. Bengle ini pernah dibalurkan di sekujur tubuhku karena aku mengalami gatal tanpa sebab saat si K berusia 4 bulan dalam kandungan, kata orang tua, indikasi terkena sawan.

Duh, Gustii. 

Bengle dibalurkan di ubun-ubun si K plus area PD. Aku manut saja. Sudah keburu stres dengan si  K yang ogah minum. Nggak mau nambah-nambahi stres karena bentrok dengan Ibu.

Well, gagal lagi. Si K tetap rewel. Aku pun membuka catatan penggalan surah yang dibaca ketika anak rewel dari ning Lubabah Aly berulang-ulang hingga akhirnya si K tertidur di gendongan karena kelelahan. Drama menolak ASI belum berakhir, esok harinya bulik-bulik menyuruhku untuk mengajak si K sowan yai.


"Khawatir diganggu. Kayak si x dulu, disuruh mbah dukun nunggang kuda, baru sembuh dia..." tutur beliau dalam bahasa jawa.

Aku mendadak merinding. Mengingat-ingat masa lalu yang sangat akrab dengan peristiwa makhluk astral, tetapi tidak sekalipun aku mengalami sendiri. Aku terkejut ketika rutinan ngaji malam ahad, teman di sebelahku mendadak histeris, "Mbak, ada mata merah melotot di depan!"

Yang hanya kusambut garukan kepala, "Nglindur kowe, Dek?"

"Widi, nggak dengar suara gamelan?" tanya teman seregu saat kemah. Aku menganggapnya bercanda, lha wong aku tunarungu parsial ngapain dia tanya suara gamelan cobak?

"Serius, Widi, kamu dengar nggak?"

Aku hanya geleng-geleng kepala membaca gerakan bibirnya dan menganggap angin lalu. Selang satu jam kemudian, selepas upacara apel malam, mendadak aku menerima kabar jika ketua regu kesurupan, disusul teman-teman lainnya. Suasana bumi perkemahan malam itu super hening. Hanya untuk ke kamar mandi pun aku tidak berani, Widi, kemaren aku melihat di kamar mandi... dan, aku pun ngompol. Sepanjang malam saat tidur di tenda, aku memeluk buku yasin sembari merapal segala yang kuhafal, berdoa kencang-kencang agar Robbuna mengetuk hati Bapak untuk menjemputku pulang saat itu juga. Errr. Beberapa hari selepas kemah, bisik-bisik terdengar, malam itu tidak ada satu pun orang yang berada di pendopo bumi perkemahan, lalu, siapa yang memainkan gamelan?

Kilasan peristiwa menyadarkanku, betapa keberadaan makhluk ghaib memang nyata adanya. Kerewelan si K dua hari yang lalu kembali memporak-porandakan perasaanku. Si K menolak menyusu nyaris sehari semalam, hingga terlihat kurang cairan, hanya buang air kecil sebanyak dua kali sehari. Jika dulu selepas imunisasi si K hanya minta digendong sampai jam dua belas malam, dua hari yang lalu, si K meminta gendong semalam suntuk dengan drama menolak nyusu yang lebih parah. Huhuhuhu.

Sawan-kah ini?

Saat syukuran ulang tahun ke tujuh belas, delapan tahun silam, salah seorang teman yang kuundang mendadak kesurupan. Menceracau jika perempatan jalan di depan rumah ada penguninya dan meminta sebuah botol untuk memasukkannya ke dalam. Lututku sontak lemas. Tetangga berdatangan, Ada apa?

Bapak menolak mentah-mentah, jangan ngelantur, biarkan saja, toh, puluhan tahun Bapak tinggal disini mereka tidak mengganggu.

Oh, please, kenapa momen ultahku saat itu sedemikian mengenaskan?

Beberapa waktu lalu, bu Nyai menegaskan kembali tentang 'penjaga-penjaga', salah satunya di perempatan depan rumah dan memberi wejangan agar aku tak perlu paranoid, makhluk ghaib memang nyata adanya, ngaji dan tenangkan batin, mereka nggak bakal ganggu...

Apakah...

Dengan memelas, aku meminta Abah K untuk mengambil dua tindakan sekaligus, ke Bidan dan sowan Yai. Titik. Tidak dapat ditawar lengkap dengan ekspresi lelah. Kontrol ke Bidan, si K hanya diperiksa panas dan mulutnya. Tidak sariawan, pun demamnya masih aman, tiga tujuh derajat celcius. 

"Bah, diganggu kali ini. Ayo dong, sowan yai." rengekku, setelah siang harinya gagal ke sowan yai karena beliau tidak ada.

Setelah berbincang mengenai gawean, Abah K menuturkan tentang si K yang rewel sehari semalam dan menolak untuk menyusu. "Niki lho, Pak. Kuatir men yen Kevin diganggu."

Yai mengamati si K, beliau tersenyum, "Coba, suapi sawo ini. Jika dia mau makan, berarti tidak apa-apa."

Aku pun mencoba menyuapi si K. Dan, yes, dia doyan makan. Emaknya lega dong... Yai dan Abah K senyum-senyum. Ehh, ini kenapa pada senyam-senyum? 

"Kalo diganggu itu, matanya menatap terus ke atas. Ngawang-awang.." dhawuh Yai. Aku ber-oh-oh saja. Yang penting si K mau makan sawo dan... menyusu kembali selepas ngenyot sawo. 

Lalu, apa hubungannya sawo dengan nge-tes sawan?
Setelah melalui peristiwa yang mendebarkan tersebut dan hatiku kembali riang gembira melihat si K kembali tersenyum riang, aku baru menyadari tentang sekelebat perkataan si Abah K, "Lha siapa yang nyuwuk sawo itu? Itu mah biar kamu tenang aja, Yi. Paling sawo dari belakang masjid."

*Kemudian ditertawakan orang sekampung*

***

Berbicara tentang makhluk astral memang harus diyakini tentang keberadaannya. Wong, dia toh, makhluknya Gusti Allah. Tetapi, ada baiknya buat Emak-emak membekali diri tentang gangguan ini dan cara mengatasinya. Aku mengumpulkan berbagai resep tentang seluk-beluk ini, eh, emang makanan. :p
Ingat, ya, jangan terburu-buru untuk menjudge anak terkena sawan atau tidak. Teliti dulu, apakah ia sedang dak enak badan, sariawan atau gerah dengan udara yang panas. Jika sedikit-dikit dijudge sawan, jika beneran kena sawan mah.. aduhhh,..

Jika si Kecil Diganggu

Setidaknya, ada dua tanda pokok jika anak diganggu, menangis terus menerus sejak maghrib dan matanya mengawang-awang. Jika sudah yakin ada indikasi diganggu, ada tips dari mbak Arinta Adiningtyas:

Baca Surat Yasin tiga kali, tiupkan ke segelas air yang sudah dilarutkan segenggam garam. Percikkan air ke seluruh sudut rumah, sisanya untuk mandi si kecil. Garam adalah partikel yang menarik energi negatif.

Tak jauh berbeda dengan mbak Rani R Tyas, beliau menberikan tips agar air garam dioleskan ke telapak kaki si kecil.

Mencegah si Kecil Diganggu

Kata orang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Heuheuuu. Maka, daripada traumatis dengan kerewelan si Kecil, ada beberapa amalan yang bisa dipilih.

1. Biasakan berwudhu setiap masuk rumah. Paling tidak cuci muka dan cuci kaki agar energi negatif ikut larut dalam air. Jika orang tua disini, biasanya menyuruh kami terlebih dahulu ke dapur sebelum mengunjungi anak kecil.

2. Baca wirid setiap pagi dan sore. Ada banyak pilihan tentang amalan wirid ini. Alma'tsurat sebagaimana yang umum dibaca oleh teman-teman, atau doa ini yang kuperoleh dari ning Lubabah Aly.
U'idzuka bikalimatillahittammah min kulli syaithonin wa haammah wa ainin laammah dafa'tu ankassu' bi alfi alfi la haula wala quwwata illa billah (fallahu khoirun hafidzon wa huwa arhamurrohimin)

Doa tersebut dibaca setiap pagi dan sore, dengan cara menyentuh ubun-ubun anak ketika membaca dan meniupkannya ketika selesai.

Hmm, keberadaan anak memang mendidik ibunya untuk sebenar-benarnya pasrah kepada Robbuna.

Eh, jadi si K ini sakit, diganggu atau gimana, Dut? Eike lebih percaya yai jika si K tidak diganggu. Tetapi... sejujurnya cara di atas sudah kulakukan semua. Jadi embuh yang pas apa, Allahu A'lam. 😂

Kok nggak jadi horor? Heuheuuu. Cobak intip punya mbak Arinta disini dan mbak Rani disini. Bersiap-siaplah untuk merinding disko dengan pengalaman mereka. Eh eh, ada mami Susi Ernawati Susindra juga lhoooh, Blogger kece dari Jepara yang bersedia menjadi tamu kami kali ini. Welcome, Mom, ayo dibaca tulisan mam Susi disini.

Sekian, semua. Semoga bermanfaat. Titip kecup untuk putra-putri tersayang. Semoga selalu berada di Lindungan-Nya dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 




10 comments:

  1. Mbak..yang di bumi perkemahan itu, ngeri-ngeri sedap yak.. >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, aku lebih ngeri saat di Dinas Kesehatan. Tapi ga berani cerita. :p

      Delete
  2. Menulis pengalaman pribadi dengan baca punya orang sensasinya beda. Aku agak mrinding bacanya waktu sampai di mata merah & gending. Atut ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk, aku nggak ngerti itu semua, Mam. Jadi bengong. :p

      Delete
  3. Aku pernah nih sampai disuruh nanam dino-bengle, tapi sekarang entah ke mana. Anaknya sudah cuek bebek karena setan ibu-ibunya sudah tidak datang lagi. Alhamdulillah.
    jadi gending gamelan jawa itu ada di mana-mana ya? pernah nonton soalnya kalau di perbukitan bisa saja terjadi onomatope (tiruan bunyi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahaha, aku punya tuh di depan rumah.
      Wah, whats onomatope? gugling ah...

      Delete
  4. wah wah...alhamdulillaah gpp ya mbak si K.

    ReplyDelete
  5. Aku skip-skip bacanya, takut gabisa tidur :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk, lokasinya di Salatiga banyak lho, mbak Ges. :p

      Delete

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.